Tuesday, August 14, 2018

Reason's Adventures: Naturalism and the City in the Century of the Enlightenment by Manfredo Tafuri (1)

Petualangan berbagai pertimbangan:
Naturalisme dan Kota pada Abad Pencerahan
Oleh Manfredo Tafuri (1)


ini merupakan terjemahan bebas dari buku Architecture and Utopia Design and Capitalist Development karya Manfredo Tafuri diterbitkan pertama kali di Italia pada tahun 1973 oleh Guis Laterza & Figli, Barli kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa inggris dan diterbitkan kembali oleh MIT press pada tahun 1976.

Untuk mencegah kesedihan mendalam dengan memahami dan menelaah penyebab-penyebabnya menjadi salah satu alasan pendorong utama dari seni borjuis (bourgeois art). Seni ini tidak akan begitu penting jika konflik, kontradiksi, dan pencerabutan yang menciptakan kesedihan mendalam ini hanya didamaikan sementara karena mekanisme yang kompleks atau jika melalui peluruhan yang penuh kontemplasi, katarsis akan tercapai.
Fenomena tentang kesedihan mendalam kaum borjuis terletak pada kontemplasi atau perenungan bebas tentang takdir. Mustahil tidak terganggu terus-menerus dengan perspektif yang dibuka oleh kebebasan tersebut. Dalam tragisnya konfrontasi ini, tidak mungkin untuk tidak mengabadikan pengalaman traumatis ini. Trauma yang berasal dari pengalaman metropolis, yang saya coba untuk dianalisis dalam buku ini, merupakan suatu cara untuk menerjemahkan kesedihan yang teramat dalam. Munch’s Scream mengekspresikan pentingnya jembatan antara “kekosongan” mutlak di dalam seseorang, mampu mengekspresikan dirinya sendiri hanya dengan satu fonem pendek dan sikap yang pasif. Bukan suatu kebetulan jika metropolis, tempat dimana alienasi mutlak berada, menjadi pusat perhatian golongan perintis.
Dari masa sistem kapitalis pertama kali harus merepresentasikan deritanya sendiri—untuk terus berfungsi, menyakinkan diri bahwa “virile objectivity” yang dibahas oleh Max Weber—ideologi yang mampu menjembatani jurang antara urgensi etika borjuis dan segala hal tentang Kebutuhan (Necessity).

Dalam buku ini saya juga akan mencoba menguraikan tahapan-tahapan di mana kompensasi di semesta ideologi tidak lagi berguna.
Kewajiban ahli intelektual borjunis untuk tetap eksis dapat dilihat dalam imprerativitas yang perannya diasumsikan sebagai misi “sosial’. Di antara para anggota golongan perintis intelektual ada semacam pemahaman yang tak diucapkan mengenai posisi mereka, upaya semata untuk mengeksposnya menimbulkan protes keras. Tentu saja, budaya sudah mengidentifikasikan perannya sendiri sebagai mediator dalam istilah ideologis bahwa—semua keyakinan mandiri dikesampingkan—kecerdikannya telah mencapai titik di mana ia menentukan bentuk perdebatan dan protes terhadap hasilnya sendiri. Semakin tinggi sublimasi atau peluruhan konflik pada tingkat formal, maka semakin tersembunyi struktur sosial dan budaya yang benar-benar diungkapkan oleh sublimasi tersebut.
Menyerang subjek ideologi arsitektural dari sudut pandang ini berarti berupaya untuk menjelaskan mengapa seolah-olah proposal yang paling berperan untuk reorganisasi sektor pengembangan kapitalis ini harus mengalami penderitaan dan frustrasi yang paling memalukan—mengapa mereka bisa direpresentasikan hingga sekarang sebagai proposal yang murni objektif yang miskin konotasi, atau “alternatif” semata atau bahkan inti dari perdebatan antara kaum intelek dan pemerintahan.

Harus segera saya nyatakan bahwa saya tidak percaya jika hal tersebut hanyalah kebetulan bahwa sebagian besar gagasan terbaru tentang arsitektur diperoleh dari pemeriksaan kembali asal-usul dari pergerakan historis golongan perintis. Kembali kepada asal-usul ini, tepatnya ada pada periode ketika ideologi borjuis dan antisipasi intelektual terhubung dengan sangat erat, seluruh siklus arsitektur moderen bisa dipandang sebagai suatu perkembangan kesatuan. Hal ini memungkinkan untuk mempertimbangkan secara global formasi ideologi arsitektural dan khususnya implikasi mereka terhadap kota.
Namun penting untuk mengakui juga karakter kesatuan siklus yang dilalui oleh budaya borjuis. Dengan kata lain, akan menjadi hal yang penting untuk terus-menerus mengingat seluruh gagasan perkembangannya.
Pentingnya riset sistematis tentang arsitektur zaman Pencerahan mampu mengidentifikasi, pada tingkat ideologis murni, berbagai kontradiksi yang beragam bentuk menyertai seni kontemporer.

Formasi seorang arsitek sebagai seorang ideolog masyarakat; individualisasi wilayah intervensi yang sesuai untuk tata kota; peran persuastif terhadap publik dan peran kritis pribadi terhadap masalah dan perkembangannya sendiri; interrelasi  dan oposisi—di tingkat penelitian formal—antara “objek” arsitektural dan organisasi kota: hal-hal ini merupakan tema-tema “dialektik Pencerahan” yang muncul kembali secara konstan pada bidang arsitektur.

Ketika pada tahun 1753 Laugier menyatakan terang-terangan teorinya tentang desain urban, secara resmi mengawali teori arsitektur abad Pencerahan, kata-kata Laugier menyingkap dua kali lipat inspirasi. Di sisi lain, membatasi kota menjadi suatu fenomena alam. Sementara itu, juga keluar dari gagasan awal tentang organisasi urban dengan menerapkan dimensi formal tentang estetika lukisan pada kota. Laugier menyatakan:
Siapa saja yang tahu bagaimana mendesain taman dengan baik tidak akan menemui satu kesulitan apa pun dalam mengusut rencana bangunan kota sesuai dengan area dan situasi yang ada. Dipastikan ada bentuk bujur sangkar, persimpangan jalan dan jalan raya. Pasti akan ada regularitas dan fantasi, hubungan dan oposisi, kasual dan elemen-element tak terduga yang memperkaya pemandangan; susunan megah dalam detil, keruwetan, haru-biru dan keributan dalam rancangan keseluruhan.

Kata-kata Laugier merupakan ringkasan tajam mengenai realita formal dari perkotaan pada abad ke delapan belas. Tidak ada lagi skema urutan pola dasar, melainkan penerimaan karakter antiperspektif dari ruang-ruang kota. Bahkan referensinya tentang taman memiliki signifikansi yang baru: Dalam keberagamannya, alam yang sekarang dipertimbangkan untuk membentuk bagian struktur perkotaan mengakhiri retorika yang menghibur dan naturalisme didaktis yang mendominasi keberlangsungan tata letak Baroque dari abad ke tujuh belas hingga pertengahan abad ke delapan belas.

Oleh karena itu seruan naturalisme Laugier adalah daya tarik bagi asal usul perencanaan lingkungan dan pada waktu yang sama juga menunjukkan suatu pemahaman tentang kualitas antiorganik perkotaan. Akan tetapi, masih ada lebih banyak lagi. Pengurangan perkotaan menjadi fenomena alam adalah respon terhadap keindahan lukisan, yang diperkenalkan empirisme Inggris pada awal yang sama ketika dekade pertama abad ke delapan belas dan pada tahun 1759 menghasilkan dasar-dasar teoretis yang koheren dan rinci oleh seorang pelukis Inggris, Alexander Cozens.

Tidak ada yang tahu sejauh mana gagasan Laugier tentang perkotaan bisa mempengaruhi teori lukisan bentang alam Cozens atau pertimbangan Robert Castell dalam The Villas of the Ancients. Yang pasti adalah bahwa penemuan urban abbe Perancis dan teori pelukis Inggris ini memiliki kemiripan dari segi metode dasar, di mana seleksi menjadi alat untuk intervensi terpenting dalam realita “alamiah”.
Kami memahami bahwa bagi ahli teori abad ke delapan belas tidak ada keraguan bahwa kota tidak jauh berbeda halnya dengan lukisan. Selektivitas dan kritik yang oleh karenanya menandakan awal perencanaan perkotaan dari suatu bagian fragmentasi yang ada pada tingkat yang sama, bukan hanya Alam dan Alasan, melainkan fragmen alam dan fragmen perkotaan.

Lantaran kota merupakan karya manusia, ia cenderung pada kondisi alam. Oleh karena itu, sama seperti lukisan bentang alam oleh seorang seniman, melalui seleksi yang krusial kota juga harus memiliki jejak moral masyarakat.
Sementara Laugier dan sama halnya dengan para ahli teori abad Pencerahan Inggris sangat menyakini karakter artisifial dari gaya urban atau perkotaan, Ledoux dan Boulle sama-sama tidak melupakan sisi mistik dan abstrak dari alam tertuang dalam karya-karya mereka yang lebih inovatif. Kontroversi Boulle dengan antisipasi Perrault tentang artifisialitas gaya arsitektur sangat indikatif kaitannya dengan hal ini.

Meskipun tidak pasti, mungkin benar adanya bahwa konsep Laugier kota bagai hutan tidak memiliki model lain selain rangkaian ruang kosong bervariasi yang tampak pada rencana kota Paris yang digambar oleh Patte, orang yang menggabungkan proyek dalam satu keseluruhan untuk alun-alun kerajaan yang baru. Namun, dapat dipastikan bahwa konsep ini dirujuk oleh George Dance, Jr., dalam proyeknya untuk kota London, suatu proyek yang untuk abad ke delapan belas tentu saja sangat canggih. Oleh karena itu saya akan membatasi diri untuk memasukkan pendirian teoretis yang terkandung dalam perkataan Laugier, yang bisa dipandang lebih berhubungan ketika diingat bahwa Le Corbusier akan mengandalkan mereka dalam melukiskan prinsip-prinsip teoretis ville radieuse-nya.

No comments:

Post a Comment