Tuesday, July 31, 2018

“Radical” Architecture and the City oleh Manfredo Tafuri

ini merupakan tulisan penting bagian dari buku Architecture & Utopia Design and Capitalist Development
ole Manfredo Tafuri yang diterbitkan pada tahun 1975 oleh MIT press. 

“Radical” Architecture and the City 

Arsitektur “Radikal” dan Kota
Dalam Grosstadtarchitektur yang dipublikasikan tahun 1927, Ludwig Hhilberseimer menuliskan bahwa:
Arsitektur kota besar sangat bergantung pada solusi yang diberikan untuk dua faktor: sel dasar dan organisme urban sebagai keutuhan. Ruang tunggal sebagai elemen unsur pemukiman akan menentukan aspek pemukiman dan karena pemukiman gantinya membentuk blok, ruang akan menjadi faktor konfigurasi urban yang merupakan tujuan sebenarnya dari arsitektur. Begitu pula struktur planimetrik kota akan memiliki pengaruh penting pada desain pemukiman dan ruang. 63
Oleh sebab itu, kota besar bisa dikatakan sebagai satu kesatuan. Dengan membaca melebihi maksud penulis, kita bisa menginterpretasikan pernyataannya bahwa dalam strukturnya, keseluruhan kota modern menjadi “mesin sosial” raksasa.
Berbeda dengan jalan yang diikuti oleh banyak ahli teori Jerman antara 1920 dan 1930, Hilberseimer memilih aspek khusus ekonomi urban, mengisolasinya untuk mengalasisnya, dan memisahkan komponennya sendiri-sendiri. Demi kejelasan penjelasan dan penyusutan masalah hingga intinya, hal yang ditulis Hilberseimer 

63. L. Hilberseimer, Grosstadtarchitektur, Julius Hoffmann Verlag, Stuttgart 1927 Lihat L.Grassi, perkenalan pada L. Hilberseimer, Un’idea di piano, Marsilio, Padua 1967 (Edisi Italia Entfaltung einer Plangungsidee, Ullstein Bauwelt Fundamante, Berlin 1963).


mengenai hubungan antara sel dan organisme urban adalah hal yang patut dicontoh. Sel bukan hanya merupakan elemen utama jalur produksi terus-menerus yang menyimpulkan kota melainkan juga elemen yang mengkondisikan pengumpulan dinamis struktur bangunan. Kualitas standarnya mengizinkan analisis dan solusi pada abstraksi. Sel bangunan dalam hal ini merepresentasikan struktur program produksi dari hal yang tidak termasuk dalam komponen standar lain. Bangunan tunggal tak lagi merupakan “objek”. Bangunan tunggal tersebut hanya merupakan tempat himpunan dasar dari sel tunggal mengasumsikan bentuk fisik. Mengingat sel tersebut merupkan elemen ad infinitum yang bisa digandakan, sel-sel tersebut secara konsep membangun struktur utama jalur produksi yang tidak melibatkan konsep lama mengenai “tempat” dan “ruang”. Hilberseimer secara koheren bersikap sebagai syarat kedua teoremanya mengenai keseluruhan organisme urban. Penyesuaian sel koordinat mempengaruhi perencanaan seluruh kota. Struktur kota menurut hukum himpunan, akan mampu mempengaruhi bentuk standar sel. 64
Dalam proses kaku produksi yang terencana, arsitektur kehilangan dimensi spesifiknya, paling tidak dalam ranah tradisional. Karena arsitektur merupakan “pengecualian” dalam hal homogenitas kota, obyek arsitektur dilarutkan sepenuhnya. Menurut Hilberseimer:

64. Dari hal ini muncul skema kota vertikal yang menurut Grassi (hal.10) merupakan alternatif teoretis untuk kota dengan tiga juta penduduk yang dihadirkan oleh Le Corbusier tahun 1922 di Salon d’Automne. Perlu dicatat bahwa Hilberseimer – meskipun pendirian teguhnya dan juga semua grup cendekiawan radikal yang mengikutinya – setelah imigrasinya ke Amerika Serikat dan masa kritisisme diri, tidak tetap tahan pada mitos komunitas dan alam yang ada di antara bahan ideologis Perjanjian Baru.

[Keharusan] untuk membentuk massa yang besar menurut aturan umum yang didominasi oleh keragaman, kasus umum dan hukum ditekankan dan diperjelas, sementara pengecualian disisihkan, nuansanya batal. Hal yang memerintah adalah pengukuran yang mendesak kekacauan terjadi: bentuk logis, univokal , matematis.65
Dan:
Kebutuhan untuk membentuk massa material yang beragam dan seringkali besar menurut hukum resmi sama valid untuk setiap elemen meliputi pengurangan bentuk arsitektonik terhadap kebutuhan yang paling sederhana, penting, dan umum: pengurangan yang mengkubik bentuk geometri yang merepresentasikan elemen dasar arsitektur.66
Hal ini bukan “manifesto” paling murni. Pertimbangan Hilberseimer mengenai arsitektur metropolis – sangat sejalan dengan observasi analogis yang dibuat oleh Behrens tahun 1914—menyatakan deduksi logis yang dibuat dari hipotesis selalu dikontrol secara ketat dalam elaborasi konsepnya. Hhilberseimer tidak menawarkan “model’ untuk mendesain, melainkan lebih membangun pada tingkat paling abstrak dan umum, koordinat dan dimensi desain itu sendiri. Dalam hal ini, Hilberseimer – lebih dari Gropius, Mies, maupun Bruno Taut pada tahun yang sama – memperjelas mengenai tugas baru yang menjadi panggilan bagi arsitek pada fase ini ditandai oleh reorganisasi produksi.
Memang benar bahwa “mesin kota” Hilberseimer, 

65 L. Hilberseimer, Grossstadtarchitekture, cit.
66 Ibid.
67 Lihat P Behrens, “Einfluss von Zeit und Raumausnutzung auf Moderne Formentwicklung”, dalam Der Verkehr, Jahrbuch des Deutschen Werkbundes 1914, Eugen Diederich Verlag, Jena 1914, halam 7-10.



gambaran metropolis Simmel, merebut aspek khusus fungsi baru yang ditetapkan pada kota besat oleh reorganisasi kapitalis saja. Akan tetapi, fakta yang tertinggal bahwa pada wajahteknik produksi baru dan perluasan dan rasionalisasi pasar, arsitek sebagai pembuat obyek memang telah menjadi sosok tidak memadai. Tidak lagi menjadi pertanyaan tentang memberikan bentuk pada elemen tunggal kota maupun bahkan pada purwarupa sederhana. Kesatuan nyata siklus produksi yang telah diidentifikasi dalam kota, satu-satunya peran yang sesuai untuk arsitek adalah sebagai penyelenggara siklus tersebut. Dengan membawa rencana pada perbedaan besar, aktivitas pencipta model organisasi yang ditekankan oleh Hilberseimer hanya satu-satunya yang benar-benar mencerminkan kebutuhan produksi bangunan Taylorizing dan peran baru teknisi yang menjadi sangat berlainan dengan kebutuhan ini.
Dengan pandangan ini, Hilberseimer bisa menghindari melibatkan dirinya dalam “krisis obyek”  yang dicatat dengan gelisah oleh para arsitek seperti Loos atau Taut. Bagi Hilberseimer, “obyek” tidak memasuki krisis: obyek sudah mengilang dari padangan pertimbangannya, dan satu-satunya keadaan yang membutuhkan perhatiannya adalah hal yang ditentukan oleh hukum organisasi. Nilai nyata kontribusi Hhilberseimer terlihat benar tedapat pada hal ini.
Hal yang tidak tergapai adalah penolakan Hilberseimer mengenai arsitektur sebagai alat pengetahuan, sebagai sarana penelitian kreatif. Dalam hal ini bahkan Mies van der Rohe terpisah. Pada rumah dalam Afrikanisce Strasse di Berlin, Mies mendekati posisi Hilberseimer. Pada bagian eksperimental 







18 Ludwig Hilberseimer, ilustrasi dari Grossstadtarchitektur, Stuttgart 1927.


Weissenhof in Stuttgart, ia tidak yakin. Namun, pada proyek pencakar langit kurvilinear dengan bahan kaca dan besi, monumen untuk Lark Liebknecht dan Rosa Luxemburg, desain proyek perumahan tahun 1935, dan pada dasarnya juga pada rumah Tugendhat, ia mengeksplorasi batas penjelajahan kreatif yang masih memungkinkan arsitek.
Kita tidak berada di sini karena tertarik untuk mengikuti secara detail mengenai perkembangan kontroversi ini yang berjalan mengikuti seluruh sejarah pergerakan modern. Namun, hal tersebut harus ditekankan bahwa banyak kontradiksi dan rintangan yang dihadapi oleh pergerakan modern berasal dari upaya untuk memisahkan rencana teknis dari tujuan kreatif.
Frankfurt direncanakan oleh Ernst May, Berlin dikelola oleh Martin Wagner, Hamburg oleh Fritz Schumacher, and Amsterdam oleh Cor van Eesteren merupakan bab paling penting dalam sejarah tata kota sosial demokratis. Akan tetapi, di samping oase pemesanan Siedlungen, daerah atau pemukiman eksperimental -- sebenarnya utopia yang dibangun pada tepian realitas urban sangat sedikit dikondisikan oleh mereka – pusat sejarah dan area produktif kota terus bertambah dan melipatgandakan kontradiksi. Dan hal-hal tersebut berada di kotradiksi besar yang segera menjadi lebih tegas dari sarana arsitektur yang telah direncanakan untuk mengontrolnya.
Arsitektuk Ekspresionisme-lah yang menyerap vitalitas ambigu dari kontradiksi tersebut. Hofe di Wina dan bangunan umum Poelzig atau Mendelsohn jelas tidak ada hubungannya dengan metode baru intervensi urban gerakan avant-garde.



Bangunan tersebut justru menolak horison baru yang ditemukan oleh seni yang menerima “reproduktivitas teknis”-nya sendiri sebagai sarana untuk mempengaruhi tingkah laku manusia. Namun demikian, bangunan tersebut terlihat mengasumsikan nilai kritis dan secara khusus dalam hal pembangunan kota industri modern.
Karya seperti Grosses Schauspielhaus oleh Poelzig di Berlin, rumah Chili, dan karya lain di Hamburg oleh Fritz Hoger, dan bangunan di Berlin oleh Hans Hertlin dan Ernst dan Gunther Paulus jelas tidak membangun realitas urban baru. Namun, beralih pada kegelisahan formal yang penuh dengan pathos, karya tersebut mengomentari kontradiksi kenyataan yang berlaku.
Dua kutub yang diwakili oleh Ekspresionisme dan Neue Sachlichkeit sekali lagi menlambangkan pembagian yang melekat pada budaya seni Eropa.
Di antara satu sisi kehancuran obyek dan penggantinya oleh proses untuk dihidupkan sebagai diakibatkan oleh revolusi seni Bauhaus dan arus Konstruktivis, dan di sisi lain kegelisahan obyek, eklektisisme ambigu Ekspresionisme yang khas, tidak ada kalah-mengalah.
Namun, kita tidak boleh salah paham dengan hal yang begitu jelas. Hal ini menjadi kontroversi antara intelektual yang mengurangi potensi ideologisnya sendiri terhadap instrumentasi program terdepan untuk sistem produksi pada jalannya reorganisasi dan intelektual yang bekerja dengan mengambil kesempatan dari keterbelakangan kapitalisme Eropa. Diterangkan oleh hal ini, subyektivitas Haring atau Mendelsohn mengasumsikan pentingnya menghormati Taylorisme Hilberseimer maupun Gropius. Namun, secara obyektif, 





19 Peter Behrens, elevasi untuk aula utama kantor administrasi Hoechst di Frankfurt, 1920-1928.





hal ini adalah kritik yang dibuat dari posisi garis belakang dan oleh karena itu tidak mampu memaksakan alternatif universal.68
Mendelsohn menyatakan sendiri bahwa arsitektur merupakan kreasi “monumen” persuasif demi modal komersial. Keintiman ekspresi Haring digunakan dalam kecenderungan romantis akhir dari kelas menengah Jerman. Akan tetapi, untuk menghadirkan jalannya arsitektur abad XX sebagai siklus tunggal dan satu kesatuan tidak salah sama sekali.
Penolakan kontradiksi sebagai dasar pemikiran untuk obyektivitas dan rasionalisasi pemrograman terbukti tepat  pada hubungan maksimum dengan otoritas politis meski hanya diukur secara sebagian. Pengalaman arsitek demokrasi sosial Eropa tengah didasarkan pada penyatuan kekuasaan administratif dan usul para cendekiawan. Oleh sebab itu, May, Wagner, atau Taut mempunyai perjanjian politis dalam administrasi kota demokrasi sosial.
68 Untuk alasan ini, saya mempertimbangkan interpretasi Mendelsohn sebagai ekspresionis dan sosok protestan oleh Zevi yang sangat menggelitik dan kembali diungkapkan baru-baru ini. Lihat B. Zevi, Erich Mendelsohn, opera completa. Architettura e immagini architettoniche, Etas Kompass, Milan 1970. Seluruh karya awal Mendelsohn diproduksi di bawah penerimaan realitas Nietzchean. Tidak akan sulit untuk menunjukkan bahwa kolasenya pada skala urban (renovasi bangunan Berliner Tageblatt di Berlin atau gudang Epstein di Duisburg) juga usaha urban di Berlin, sangat dijiwai oleh pandangan sosiologi Jerman awal abad XX yang fokus pada tingkah laku metropolis. Sarana formal spesifik Mandelsohn yang diinterpretasikan secara tepat oleh Zevi jelas ditujukan pada intensifikasi stimulasi sensor (Nervenleben) yang disebutkan dalam karya Georg Simmel, diroganisasi sebagal efek khas metropolis pada individu metropolitan. Tidak boleh dilupakan bahwa bagi Simmel dan Mendelsohn, intensifikasi stimuli merupakan dasar pemikiran untuk penerimaan rasionalitas superior (Verstand). Menarik untuk aspek khusus Mendelsohn adalah dua karya yang biasanya dilupakan oleh sejarawan arsitektur Jerman: K. Weidle, Goethehaus und Einsteinturm, Wissenschaftlichen Verlag Dr. Zaugg u. Co., Stuttgart 1929; dan W. Hegemann, "Mendelsohn und Hoetger ist "nicht" fast Ganz Dasselbe'? Eine Betrachtung Neudeutscher Baugesinnung," Wasmuths Monatshefte fur Baukunst, XII, 1928, 9, halaman 419-426.




20 Rencana regional untuk sistem Eschborn-Cronberg, 1931.





Jika sekarang seluruh kotalah yang diasumsikan sebagai struktur mesin industri, solusi harus ditemukan di dalamnya untuk kategori masalah yang berbeda. Pertama-tama, berdasarkan konflik antara kebutuhan kota mesin yang diorganisasi secara global dan mekanisme parasit investasi real estate yang menghambat ekspansi dan modernisasi pasar bangunan dan menghalangi revolusi dalam teknologinya.
Usulan arsitektur, model urban yang menjadi tempat pembangunan, dan dasar berpikir ekonomis dan teknologikal yang menjadi dasarnya (kepemilikian umum atas tanah kota dan perusahaan bangunan yang diindustrialisasi sesuai dengan siklus produksi urban terprogram) erat terhubung. Ilum arsitektur terintegrasi penuh dengan ideologi renaca dan bahkan pilihan formal hanya merupakan variabel yang bergantung pada hal tersebut.
Seluruh karya May di Frankfurt bisa diinterpretasikan sebagai ekspresi maksimum atas “politisasi” konkret arsitektur. Industrialisasi halaman bangunan melibatkan pembangunan unit produksi minimal. Unit minimal yang sudah ditetapkan adalah proyek perumahan Siedlung. Dalam kompleks ini, elemen dasar siklus industrial diputar pada inti pelayanan (Frankfurter Kuche). Dimensi yang memberikan daerah baru dan posisi di kota ditetapkan oleh kebijakan kota di area yang langsung dikelola oleh pemerintah kota. Akan tetapi, model formal daerah baru menjadi pertanyaan terbuka dan oleh karena itu, menjadi elemen yang memberikan cap budaya


dan membuat tujuan politis nyata yang diasumsikan secara penuh oleh arsitek.
Propaganda Nazi adalah untuk menyatakan pemukiman Frankfurt sebagai sosialisme terencana. Kita harus melihatnya sebagai demokrasi sosial sadar. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa kebetulan otoritas politis dan intelektual hanya berfungsi sebagai mediasi murni antara struktur dan supra struktur. Hal ini jelas dalam organisasi kota itu sendiri. Ekonomi pemukimam yang tertutup mencerminkan sifat terpisah usaha yang meninggalkan secara utuh kontradiksi kota yang tidak dikontrol dan direstrukturisasi sebagai sistem dalam hubungan dengan posisi desentralisasi baru pusat produksi.
Utopianisme arsitektur Eropa tengah antara 1920 dan 1930 mengandung hubungan kepercayaan yang dibangun antara cendekiawan sayap kiri, sektor terdepan “kapitalisme demokratis” (pikirkan sosok seperti Rathenau misalnya) dan pengelolaan demokrasi. Dalam situasi berjalan, solusi untuk masalah individu cenderung dihadirkan sebagai model yang sangat digeneralisasi (kebijakan domain unggulan dan pengambilalihan, eksperimentasi teknologi, elaborasi formal proyek pemukiman sebagai tipe arsitektur standar), tetapi hal tersebut menunjukkan efisiensi terbatas ketika dites pada kondisi nyata.69
69 Studi lengkap mengenai administrasi demokrasi sosial kota-kota Eropa antara dua perang masih kurang. Untuk mendekati subyek, sangat penting untuk mereferensi sumber: peluncuran jurnal Das neue Frankfurt, Die neue Stadt, Die Form, dsb. (Lihat volume Die Form. Stimme des deutschen Werkbundes, Bertelsmann Fachverlag, Berlin 1969). Lihat sebagai tambahan: J. Buekschmitt, Ernst May, A. Koch Verlag, Stuttgart 1963; B. M. Lane, Architecture and Politics in Germany, 1918-1945, Harvard University Press, Cambridge, Mass., 1968; E. Collotti, "II Bauhaus nell'esperienza politico-sociale



Frankfurt oleh May seperti Berlin oleh Machler dan Wagner memang cenderung mereproduksi model pada tingkat sosial; untuk menciptakan kita berdasar aspek mesin produktif; dan untuk meraih tampilan proletarianisasi umum dalam struktur urban dan mekanisme distribusi dan konsumsi. (Sifat dalam kelas yang dicari oleh urbanisme Eropa tengah merupakan tujuan yang terus diusulkan oleh ahli teori.) Namun, kesatuan gambaran urban – metafora formal akan sintesis baru yang diusulkan, lambang dari kekuasaan kolektif atas alam dan saran produksi terbatas dalam utopia baru manusia – tidak didapatkan oleh arsitektur Jerman dan Belanda. Bekerja dalam kebijakan teliti akan rencana untuk area urban dan regional, para arsitek mengelaborasikan model penerapan secara keseluruhan. Model Siedlung merupakan buktinya. Namun, pengejaran konstan tujuan teoretis ini mereproduksi dalam kota bentuk terdisintegrasi jalur pemasangan paleoteknikal. Kota meninggalkan bagian keseluruhan yang hanya menyatukan secara minimal dalam fungsi. Bahkan dalam bagian tunggal – pemukiman pekerja – penyatuan metode cepat terbongkar menjadi sarana menuju akhir yang tidak pasti.
Dalam bidang arsitektur khusus, krisis terjadi tahun 1930 di Berlin Siemensstadt. Mengagumkan bahwa studi sejarah kontemporer belum menyadari 
della Repubblica di Weimar," Controspazio, 1970, no. 4/5, hal. 8-15; L'abitazione razionale. Atti dei Congressi ClAM, 1929-1930, diedit oleh C. Aymonino, Marsilio, Padua 1971; M. Tafuri, "Sozialdemokratie und Stadt in der Weimarer Republik (1923-1933)," Werk, 1974, no. 3, hal. 308-319. idem, Austromarxismo e citta: 'Das rote Wein'," Contropiano, 1971, no. 2, hal. 259- 311. Untuk hasil pengalaman Jerman, lihat esei oleh M. De Michelis, "L'organizzazione della citta industrial nel Primo Piano Quinquennale," dalam volume oleh berbagai, Socialismo, citti, architettum, cit.



pemukiman terkenal yang direncanakan oleh Scharoun sebagai karya yang di dalamnya ada satu dari perpecahan paling serius dalam “pergerakan modern” terbukti.
Postulat mengenai metode seragam dalam desain yang diaplikasikan dalam skala dimensi berbeda menunjukkan sifat utopian Siemensstadt. Pada desain urban dasar (yang direferensikan mungkin secara benar pada deformasi ironis Klee), Bartning, Gropius, Scharoun, Haring, dan Format menunjukkan bahwa disolusi obyek arsitektur dalam proses keseluruhan hanya menekankan kontradiksi internal pergerakan modern. Gropius dan Bartning tetap setia pada konsep proyek perumahan sebagai jalur pemasangan, tetapi berlawanan dengan hal ini adalah ironi kiasan Scharoun dan ekspresi organik empatis Haring. Jika ideologi Siedlung dikonsumsi, menurut istilah Benjamin, destruksi “aura” secara tradisional terhubung dengan “bagian” arsitektur, obyek Scahroun dan Haring justru cenderung memperbaiki “aura” meskipun jika hal tersebut merupakan satu hal yang dikondisikan oleh metode produksi baru dan struktur formal baru.
Kasus Siemensstadt terlebih hanya merupakan kasus yang paling mencolok dalam jenisnya. Memang jika Amsterdam oleh Cor van Essteren dikecualikan, antara tahun 1930 dan 1940 pergerakan Konstruktivis Eropa ideal, ideal yang telah memberikan kehidupan bagi kota dengan kecenderungan unifikasi, berada dalam krisis.
Namun, krisis yang terjadi di atas segalanya dalam kegagalan rangkap kebijakan urban dilaksanakan oleh sosialisme demokratis Eropa. Sebagai upaya untuk mengontrol pergerakan kelas, krisis terbukti merusak seketika; sebagai upaya untuk menunjukkan superioritas aktivitas bangunan yang diatur langsung



21 Ernst May dan koleganya, pemukiman Romerstadt, Frankfurt a. M.; rencana keseluruhan, rencana rumah tipe dua keluarga, dan tabel perbandingan, dari Das neue Frankfurt, 1928, no. 7/8.



oleh kelas pekerja dan organisasi perdagangan (Dewog dan Gehag di Jerman), kota pemukiman eksperimental tetap asing terhadap proses reorganisasi komprehensif wilayah produktif.
Namun, ada alasan lain mengenai pembukuan seimbang tata kota demokrasi sosialis yang mendekati kegagalan. Hal ini tepatnya adalah model yang diusulkan untuk usaha urban: proyek perumahan atau permukiman. Faktanya, daerah eksperimental tersebut merupakan bagian dari ideologi antiurban global. Jika ideologi ini kembali pada ideologi Jefferson, di sisi lain ideologi tersebut berakar kuat pada tradisi pemikiran sosialis. (Tapi bukan ideology Marx: mengutip bagian tentang makna politis kota besar dalam Capital dan Critique of Political Economy.) Pada dasar reorganisasi urban yang dipimpin oleh May dan Martin Wagner merupakan postulat negatif intrinsik kota besar. Pemukiman menjadi oasis perintah, contoh betapa memungkinkan untuk organisasi kelas pekerja untuk mengusulkan model alternatif pembangunan urban, utopia sadar. Namun, pemukiman tersebut secara terbuka menata model kota melawan model kota besar. Tonnies melawan Simmel dan Weber.70 Dalam Frankfurt oleh Ernst May, teknologi terbaharui halaman bangunan sangat dipaksakan pada usulan antiurban secara umum. Memang daerah baru tersebut 
70 Volume oleh Ferdinand Tonnies, Gemeinshaft und Gesellschaft [Community and Society] muncul tahun 1887, tapi nostagianya untuk komunitas original sebagaimana berlawanan dengan masyarakat terorganisir, menunjukkan ideologi yang hampir diambil alih oleh urbanisme radikal antara dua perang dan juga oleh kecenderungan populis 1950an.



telah dibuktikan pada tujuan menyatukan pembangunan sistem baru produksi bangunan pada organisasi kota yang terpisah dan statis.
Akan tetapi, hal ini bukan tidak mungkin. Kota pembangunan tidak menerima ekuilibrium di dalamnya. Oleh sebab itu, ideologi ekuilibrium terbukti gagal.
Perlu dicatat bahwa utopia antiurban memiliki kelanjutan sejarah yang kembali ke era Pencerahan – dan di sini tidak boleh dilupakan bahwa teori anarkis pertama tentang kebutuhan pembubaran kota muncul pada paruh kedua abad XVIII 71 – dan meliputi teori Garden City, desentralisasi Soviet, regionalisme Regional Planning Association of America, dan Broadacre City oleh Frank lloyd Wright. Dari anti-industrialisme Jeffersonian, yang jelas terpengaruh oleh teori fisiokratik Prancis, hingga Auflosung der Staadt oleh Bruno Taut yang secara eksplisit merefleksikan ide Kropotkin, hingga model permukiman pekerja (warisan usulan abad XIX) dan Broadacre, yang menyatakan nostalgia kuat untuk komunitas organik Tonnies, untuk sekte religi yang berlawanan dengan organisasi eksternal, unuk subyek komuni yang tidak tahu derita keterasingan metropolitan.
Ideologi antiurban selalu dihadirkan dalam samaran antikapitalis, baik hal tersebut merupakan masalah anarkisme Taut, 
71 Sangat menarik dalam hal ini adalah volume oleh William Godwin, Enquiry Concerning Political Justice, London 1793, di dalamnnya rasionalisme Pencerahan didorong pada titik menciptakan masyarakat yang di dalamnya negara dilarutkan dan individu – diarahkan oleh alasan membebaskan diri – bergabung dalam komunitas kecil tanpa hukum atau institusi stabil. Lihat G. D. H. Cole, Socialist Thought: the Forerunners (1789-1850), Macmillan, London 1925.



22 Muka Das neue Frankfurt, 1929, no. 7/8, yang peluncurannya diserahkan pada diskusi masalah lalu lintas.



etika sosialis desentralisasi urbanis Soviet, atau romantisisme pedesaan domestik oleh Wright. Namun, pemberontakan penuh derita teradap metropolis yang tidak manusiawi yang didominasi oleh ekonomi uang hanya merupakan nostalgia, penolakan kelas tertinggi organisasi kapitalis, hasrat untuk mundur ke masa kanak-kanak kemanusiaan. Dan ketika ideologi antiurban ini merupakan bagian dari rencana terdepan untuk reorganisasi daerah pemukiman dan restrukturisasi regional – sebagaimana dalam kasis Regional Planning Association of America – hal ini tidak bisa dipungkiri ditakdirkan untuk kembali diserap dan dibentuk oleh kebutuhan kontingen akan paket kondisi yang berlawanan. Memang kebijakan teritorial yang dilakukan oleh Perjanjian Baru tidak untuk memuaskan harapan Henry Wright, Clarence Stein, dan Lewis Mumford.
Model kota yang dipahami pada istilah pedesaan daerah – yang digunakan kembali di Italia setelah 1945 dengan intonasi populis yang eksplisit – tidak berdiri dalam wajah dimensi urban baru yang diciptakan oleh tingkatan baru organisasi poduktif. Aspirasi pada Gemeinshaft, pada komunitas organik, yang sangat 
72 Dalam ideologi Wright tentang keliaran dan anti-kota, lihat E. Kaufmann, Jr., "Frank Lloyd Wright: the 11th Decade, Architectural Forum, CXXX, 1969, no. 5; N. K. Smith, F. L. Wright. A Study in Architectural Content, Prentice Hall, Inc., Englewood Cliffs, N.J., 1966; R. Banham, "The Wilderness Years of Frank Lloyd Wright," Journal of the Royal Institute of British Architects, December 1969; dan khususnya, G. Ciucci, "Frank Lloyd Wright, 1908-1938, dalla crisi al mito, Angelus Novus, 1971, no. 21, hal. 85- 117, dan idem, "La citta nell'ideologia e Frank Lloyd Wright. Origini e sviluppo di Broadacre," dalam volume oleh berbagai penulis, La citta americana dalla Guerre Civile al New Deal, cit., hal. 313-413.
73 Pada aktivitas Regional Planning Association of America lihat: R. Lubove, Community Planning in the 1920's: the contribution of the RPAA, University of Pittsburgh, Pittsburgh, 1963; M. Scott, American City Planning since 1890, University of California Press, Berkeley and Los Angeles 1969; dan F Dal Co, "Dai parchi alia regione. L'ideologia progressista e la riforma della citta, dalam volume oleh berbagai penulis. La citta americana dalla Guerra Civile al New Deal, cit., hal. 149-314.



23 Karl Schneider, blok pemukiman “Raum” di Jarrestrasse di Hamburg, 1929. Atas, isometi kompleks, dan rencana tipe bangunan; bawah, kompleks dibangun.



kuat dalam pemikiran yang ditinggalkan Jerman tahun 1920an, ditakdirkan sebagai hipotesis pailit untuk mengalah pada Gesellshaft, untuk hubungan umum dan terasing masyarakat yang diorganisasi dalam dan oleh metropolis besar.
Melebarkan sikap keberadaan pada seluruh daerah, metropolis menaikkan sulur masalah pembangunan-disekuilibrium. Memang teori perencanaan berdasar hipotesis pembangunan kembali ekuilibrium – dan pertama, teori Uni Soviet – ditujukan untuk direvolusionisasi setelah krisis besar 1929.

Improbabilitas, multifungsi, multiplisiti, dan kurangnya struktur organik – singkatnya, semua aspek kontradiktori yang diasumsikan oleh metropolis modern – terlihat tetap berada di luar upata rasionalisasi yang dikejar oleh arsitektur Eropa.

No comments:

Post a Comment