Monday, February 5, 2018

S M L XL : What Ever Happened to Urbanism? oleh Rem Koolhaas

S M L XL : Abad ini telah kalah dalam pertarungan melawan masalah kuantitas.

Terlepas dari awal yang menjanjikan dari keberaniannya, urbanisme tidak dapat dikembangkan dan diterapkan pada skala yang diminta oleh demografi yang telah rusak. Dalam 20 tahun, Lagos telah berkembang dari 2 ke 7, lalu 12 dan 15 juta; Istanbul telah tumbuh dua kali lipat dari 6 menjadi 12. China bahkan bersiap untuk pertambahan yang lebih menakjubkan lagi.

Bagaimana menjelaskan sebuah paradoks bahwa urbanisme, sebagai profesi, telah menghilang disaat urbanisasi terjadi dimana-mana – setelah beberapa dekade pertumbuhan pesat yang konstan – menuju jalan “kemenangan” globalnya dari kondisi kota?
Janji semu modernisme – mengubah kuantitas menjadi kualitas melalui abstraksi dan pengulangan – telah gagal, sebuah kabar burung: sihir yang tidak berfungsi sama sekali. Idenya, sisi estetikanya bahkan strateginya semuanya telah berakhir. Ditambah lagi, usaha untuk membuat permulaan baru hanya akan menodai gagasan tentang permulaan baru itu sendiri. Sekumpulan dari rasa malu yang muncul dari kekacauan ini telah meninggalkan lubang besar pada bagaimana pemahaman kita tentang modernitas dan modernisasi.



Apa yang membuat pengalaman ini menjadi membingungkan dan (untuk arsitek) memalukan adalah daya tahan kuat dari kota dan kekuatan yang gigih, meskipun ada sekumpulan kesalahan dari semua bagian yang bertindak atau mencoba untuk mempengaruhinya – secara kreatif, logika, politik.
Para ahli kota seperti pemain catur yang kalah saat melawan komputer. Kendali otomatis yang terus mencoba berbagai cara untuk menguasai kota, menghabiskan semua ambisi dari definisinya, mengejek pernyataan paling ambisius mengenai kegagalannya saat ini dan ketidak mungkinannya di masa depan, mengendalikan kelemahannya lebih jauh lagi. Setiap bencana yang diprediksi, entah bagaimana terserap dibawah selimut tak terbatas dari kota.
Meskipun saat pendewaan urbanisasi tampak mencolok dan tak terhindarkan secara matematis, rangkaian dari  aksi dan posisi untuk keluar darinya menahan momen akhir dari pengakuan untuk dua profesi yang sebelumnya sangat terlibat dalam pembuatan kota-kota – arsitektur dan urbanisme. Urbanisasi yang sudah mengakar telah mengubah kondisi kota lebih dari apa yang dikenal sebelumnya. “Kota” tidak lagi ada. Saat konsep kota terdistorsi dan berkembang melebihi contoh yang ada, setiap usaha memunculkan kondisi sebelumnya – baik dari sisi citra, aturan, pembuatan – berakhir pada nostalgia tak berakhir yang tidak berhubungan.

Bagi kaum urban, penemuan kembali yang terlambat dari keagungan kota klasik pada saat ketidak mungkinan yang pasti dari mereka mungkin telah menjadi titik dimana mereka tidak bisa kembali, momen fatal putusnya hubungan, diskualifikasi. Mereka sekarang ahli dalam rasa sakit semu: para doktor mendiskusikan sejarah awal medis dari bagian badan yang teramputasi.


Transisi dari posisi kekuatan sebelumnya menuju ke titik yang tereduksi dari kerendahan hati sangat sulit dilakukan. Ketidakpuasan dengan kota kontemporer tidak dapat membawanya menuju pengembangan dari jalan alternatif yang kredibel; sebaliknya, hal ini telah menginspirasi berbagai cara yang lebih baik dalam memperpanjang ketidak puasan. Sebuah profesi yang terus berada dalam fantasinya, ideologinya, kepura-puraannya, dan ilusi dari keterlibatan dan pengendaliannya, dan karena itu, hal ini tidak memungkinkan untuk membuat kesopanan yang baru, intervensi sebagian yang baru, pengubahan strategis baru, posisi yang berbahaya yang mungkin dapat mempengaruhi, mengarahkan ulang, menyukseskan dalam hal yang terbatas, mengumpulkan kembali, memulai dari titik nol lagi, tetapi tidak akan pernah bisa memulihkan kendalinya. 

Karena generasi Mei ’68 – generasi terbesar yang pernah ada, yang tenggelam dalam “narsisme kolektif dari ledakan demografi” – sekarang menguasai, sangatlah menggoda untuk berpikir bahwa merekalah yang bertanggung jawab atas berakhirnya urbanisme – sebuah kondisi dimana kota-kota tidak dapat lagi dibangun – secara paradoks karena mereka menemukan dan menciptakan kembali kota.
Sous le pave, la plage (dibawah trotoar, pantai) : pada awalnya, generasi Mei ’68 meluncurkan ide sebuah permulaan baru untuk kota. Sejak saat itu, kita telah dilibatkan dalam dua operasi pararel: mendokumentasikan kekaguman kita yang luar biasa pada kota yang sudah ada, mengembangkan filosofi, proyek, purwa rupa untuk mempertahankan dan pembentukan kembali kota dan, pada saat yang sama, menertawai bidang profesional dari urbanisme atas keberadaannya, membongkarnya dengan kebencian kita pada mereka yang merencanakan (dan membuat kesalahan besar dalam perencanaan) bandara, Kota baru, kota satelit, jalan tol, gedugn pencakar langit, infrastruktur, dan semua yang tidak selaras dengan modernisasi. Setelah menyabotase urbanisme, kita telah merendahkannya hingga titik dimana seluruh fakultas di universitas ditutup, kantor dibangkrutkan, biro tidak lagi menjadi badan swasta. “Kecanggihan” kita menyembunyikan gejala besar dari ketakutan yang berpusat pada permasalah sederhana dari pengambilan posisi – mungkin aksi paling mendasari dalam membuat sebuah kota. Kebijaksanaan kita yang kompleks dapat secara mudah dibuat karikaturnya: menurut Derrida, kita tidak bisa menjadi Seluruhnya, menurut Baudrillard kita tidak bisa menjadi Nyata, menurut Virilio kita tidak bisa ada Disana.

“Terbuang di Dunia Virtual”: sebuah plot untuk film horor. Hubungan kita saat ini dengan “krisis” dari kota sangatlah tidak jelas: kita masih tetap menyalahkan satu sama lain untuk situasi dimana utopianisme yang tidak bisa disembuhkan dari keduanya dan ketidak setujuan kitalah yang sebenarnya bertanggung jawab. Karena hubungan munafik kita dengan kekuasaan – tidak setuju namun tamak akannya – kita membongkar seluruh disiplin ilmu kita, melepaskan diri dari proses operasi, dan menyalahkan seluruh populasi atas ketidak mungkinan untuk menyandikan peradaban pada wilayah mereka – subyek dari urbanisme.
Sekarang, kita hidup dengan dunia tanpa urbanisme, hanya arsitektur dan selebihnya juga arsitektur. Kerapihan dari arsitektur adalah daya tariknya: hal itu membuatnya lebih jelas, eksklusif, terbatas, terpisah dari “lainnya” tetapi juga mengkonsumsi. Dia mengeksploitasi dan menghabiskan potensi yang pada akhirnya hanya dapat diciptakan oleh urbanisme, yang hanya imajinasi khusus dari urbanisme yang dapat menciptakan dan memperbaharuinya.
Kematian dari urbanisme – tempat perlindungan kita dari parasitisme arsitektur – menciptakan bencana besar: semakin dan semakin banyak substansi yang dicangkokan pada akar yang sedang lapar.

Dalam momen saat kita lebih permisif, kita menyerah pada estetika kekacauan – kekacauan “kita”. Tetapi, bila dilihat dari sisi teknis, kekacuan adalah sesuatu yang terjadi saat tidak ada sesuatu yang terjadi, bukan hal yang dapat dirancang atau didatangkan; hal ini adalah sesuatu yang muncul; ini tidak dapat dibuat dengan sengaja. Satu-satunya hubungan yang nyata yang dapat dimiliki arsitek dengan subyek dari kekacauan adalah untuk mengambil tempat semestinya dalam sekumpulan pasukan yang berjuang untuk melawannya, dan mereka gagal.
Bila ada yang akan menjadi “urbanisme baru” hal itu tidak akan berdasarkan pada fantasi kembari dari keteraturan dan kemahakuasaan; hal itu akan menjadi pertunjukan ketidak pastian; hal itu tidak akan lagi dipandang sebagai hal yang berkaitan dengan penataan dari sedikit banyak obyek permanen, tetapi berhubungan dengan irigasi dari wilayah-wilayah dengan potensi; ini juga tidak akan membidik konfigurasi yang stabil, tetapi untuk penciptaan dari pengadaan area yang mengakomodasi proses-proses yang menolak untuk dikristalisasi menjadi bentuk yang pasti; ini tidak akan lagi tentang definisi yang detail, pengungkapkan batas, tetapi tentang mengembangkan gagasan, menolak batasan, tidak tentang memisahkan dan mengidentifikasi wujud, tetapi tetnang menemukan perpaduan yang tak bernama; ini tidak lagi terobsesi dengan kota, tetapi dengan manipulasi infrastuktur untuk intensifikasi dan diversifikasi tak berujung, jalan pintas dan distribusi ulang – penemuan kembali dari psikologi ruang. Dikarenakan kota saat ini sudah sangat terbuka, urbanisme tidak pernah lagi tetnang hal “baru”, tetapi hanya tentang “lebih” dan “yang termodifikasi.” 

Hal ini tidak akan tentang peradaban, melainkan tentang kurangnya perkembangan. Sejak hal ini tidak lagi terkendali, kota hampir menjadi vektor utama dari imajinasi. Setelah didefinisikan ulang, urbanisme tidak akan hanya, atau sebagian besar, sebagai profesi, melainkan cara berpikir, sebuah ideologo: untuk menerima apa yang ada. Kita membuat istana pasir. Sekarang, kita berenang dilaut yang menghancurkannya.

Untuk bertahan, urbanisme harus membayangkan pembaruan yang baru. Terbebas dari tugas lamanya, urbanisme didefinisikan ulang sebagai sebuah jalan untuk beroperasi yang akan menyerang arsitektur tanpa bisa dihindari, menjajah wilayahnya, membawanya keluar dari benteng pertahanannya, merusak kepastiannya, meledakkan batasannya, merendahkan keasyikannya pada benda dan substansi, menghancurkan tradisinya, mengusir para praktisinya.

Kegagalan yang terlihat dari kota menawarkan kesempatan yang besar, dari untuk ketidak seriusan Nietzschean. Kita harus membayangkan 1.001 konsep lain dari kota; kita harus mengambil resiko besar; kita harus berani untuk tidak mengkritik; kita harus menelan dalam-dalam dan memaafkan apapun yang ada. Kepastian dari kegagalan harus menjadi gas tawa/oksigen kita; modernisasi obat kita yang paling mujarab. Karena kita memang tidak bertanggung jawab, kita harus menjadi tidak bertanggung jawab.

Dalam lanskap peningkatan kebijaksanaan dan kefanaan, urbanisme tidak lagi harus menjadi keputusan kita yang paling serius; urbanisme dapat lebih santai, menjadi Gay Science = Urbanisme Ringan.
Apakah yang kita nyatakan hanya sebatas tidak ada krisis – mendefinisikan ulang hubungan kita dengan kota tidak sebagai pembuatnya, tetapi hanya sebagai subyek, sebagai pendukungnya?
Lebih dari sebelumnya, kota adalah satu-satunya yang kita miliki.

No comments:

Post a Comment